Bab I

Pendahuluan
  Membicarakan dunia pendidikan islam khususnya relasi antara seorang murid dengan gurunya serta proses pembelajaran dimana merujuk pada konsep ulama salaf harus memperhatikan landasan inti atau poinnya. Salah satu karangan ulama salaf yang terkenal dengan karyanya yang fenomenal  yaitu ta’lim muta’alim mengingatkan pada inti kesuksesan dari proses pembelajan yang kali ini sering diterapkan di dunia pesantren. Diantaranya adalah:

Keberhasilan seseorang mendapat anugerah ilmu nafi’' dan muntafa' bih adalah karena melibatkan tiga faktor yang sangat dominan, yaitu: Pertama, Fadhol dari Allah, karena memang diajar oleh-Nya (alladzi 'allama bil qolam. 'Allamal insaana maa lam ya'lam). Untuk memperoleh fadhol ini, 
orang harus berdo'a atau dido'akan. Do'a itu harus sungguh-sungguh dan disertai kesungguhan. Tidak boleh dipanjatkan dengan seenaknya dan mengesankan tidak begitu membutuhkan wushulnya do'a, dengan cara misalnya, disamping berdo'a orang juga berbuat maksiat, sama sekali tidak berusaha menghindar dari keharaman yang dilarang. Fa anna yustajaabuu lah.

Kedua, Belajar sungguh-sungguh, rajin mengaji dan mengkaji, tekun mengulang dan muthola'ah. Sebuah maqolah yang sering disebut hadits menegaskan "Man tholaba syaian wajadda wajada wa man qoroal baba wa lajja walaja". Siapa saja yang mencari sesuatu dan sungguh-sungguh, dia akan mendapatkannya. Dan barang siapa mengetuk pintu dan dia mengamping, maka dia masuk ke dalam (rumah). Secara implisit firman Allah yang biasanya untuk mendalili orang muslim yang tidak perlu ragu terjun dalam perjuangan: "Walladzina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa", mengisyaratkan hal yang demikian itu. Ketiga, Menyadong pertularan (atau apa namanya) dari guru kalau mengacu sebuah pameo "atthob'u saroq" tabiat, watak, karakter itu mencuri, maka kedekatan seseorang dengan orang lain mengakibatkan penularan yang niscaya mengacu sunnah Allah, dia yang lemah akan tertulari yang lebih kuat. Murid akan tertulari dari sang guru.

Pada kenyataannya, seberapa besar nafi' dan muntafa' bihnya ilmu yang diperoleh oleh tholib tergantung pada seberapa besar kadar ketiga faktor itu diupayakan, diayahi dan menghasilkan. Ada satu faktor lagi yang oleh ta’lim muta’alim di atas diisyaratkan pula sebagai salah satu sebab seseorang berhasil mendapatkan ilmu dan yang belakangan ini dilakukan oleh orang tua tholib. Bagi orang tua tholib yang menyikapi secara santun kepada ahli ilmi, kepada siapa tholib "ngangsu ilmu", anaknya atau cucunya niscaya akan menjadi orang alim. Memang tidak ada dalil yang mengukuhkan analisis tersebut. Namun secara empiris bapak saya (almaghfurlah KH. Bisri Musthofa) merasakan itu. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu Allah yang memperolehnya dianjurkan (untuk tidak mengatakan diharuskan) melalui sanad (sandaran) yang jelas. Baik sya fawiyyan maupun ijaziyyan. Supaya manfa'at ilmu itu secara ritualistik mendapatkan legalisasinya. Karena manfa'at adalah asas yang mendasari kesungguhan tholibil 'ilmi.

Tholabu ilmillah, mencari ilmu Allah jelas wajib hukumnya. Mencari ilmu al-hal wajib (fardhu) 'ain dan selebihnya wajib (fardhu) kifayah. Dengan demikian mencari ilmu, tholabul ilmi adalah amal ibadah. Dari pendirian keibadahan tholabil ilmi inilah merupakan pendekatan kitab "Ta'limul Muta'alim".

Dalam makalah kali ini, secara spesifik akan menjelaskan relasi dan adab Murid kepada Kiai atau guru dalam konteks pemikiran salaf yang masih mengakar dalam dunia pendidikan pesantren serta jelas akan hasil secara kualitas.

Bab II

Pembahasan

Adab Murid dalam Belajar

Didalam kitab yang berjudul : “Mensucikan Jiwa “ yang merupakan intisari Ihya’ Ulumuddin oleh Sa’id Hawwa dijelaskan bahwa sekurang-kurangnya ada sepuluh adab dan tugas (wazhifah) seorang  murid, diantaranya :

Pertama  : Mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlak dan keburukan sifat, karena ilmu adalah ibadahnya hati, sholatnya jiwa, dan peribadatan bathin kepada Allah. Sebagaimana sholat yang merupakan tugas anggota badan yang zhahir, tidak sah kecuali dengan mensucikan yang zhahir itu dari hadats dan najis. Demikian pula ibadah bathin dan menyemarakkan hati dengan ilmu tidak sah kecuali setelah kesuciannya dari berbagai kotoran akhlak dan najis-najis sifat.

Allah berfirman : “ Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis “ . ( Q.S. At-Taubah : 28 ), mengingatkan kepada akal bahwa kesucian dan kekotoran tidak khusus pada hal-hal yang lahiriah. Seorang musyrik bisa menjadi bersih pakaian dan badan tetapi batinnya najis. Najis ialah ungkapan tentang sesuatu yang harus dijauhi dan dihindari. Sedangkan kotoran sifat lebih penting untuk dijauhi karena ia disamping kotor secara langsung juga pada akhirnya menghancurkan.

Kedua : Mengurangi keterikatannya dengan kesibukan dunia, karena ikatan-ikatan itu menyibukkan dan memalingkan. Allah berfirman : “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya “. (Q.S, Al-Ahzab : 4).

Jika fikiran  terpecah maka tidak akan bisa mengetahui berbagai hakikat. Oleh karena itu dikatakan : “Ilmu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya sebelum kamu menyerahkan kepadanya seluruh jiwamu. Jika kamu telah memberikan seluruh jiwamu kepadanya tetapi ia baru memberikan sebagiannya kepadamu maka kamu berarti dalam bahaya.” Fikiran yang terpencar pada berbagai hal yang berserakan adalah seperti sungai kecil yang airnya berpencar kemudian sebagiannya diserap tanah dan sebagian lagi dihisap udara sehingga tidak ada yang terkumpul dan sampai keladang tanaman.

Ketiga : Tidak bersikap sombong kepada orang yang berilmu dan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap guru, bahkan ia harus menyerahkan seluruh urusannya kepadanya dan mematuhi nasehatnya seperti orang sakit yang harus mematuhi nasehat dokter yang penuh kasih sayang dan mahir. Hendaklah ia bersikap tawadhu’ kepada gurunya dan mencari pahala dan ganjaran dengan berkhidmat kepadanya. Asy-Sya’bi berkata : “Zaid bin Tsabit menshalatkan jenazah, lalu baghalnya didekatkan kepadanya untuk ditunggangi, kemudian Ibnu Abbas segera mengambil kendali baghal itu dan menuntunnya. Maka Zaid berkata : “Lepaskan wahai anak paman Rasulullah !” Ibnu Abbas menjawab : “Beginilah kami diperintahkan untuk melakukan kepada para ulama dan tokoh “. Kemudian Zaid bin Tsabit mencium tangannya seraya berkata : “Beginilah kami diperintahkan untuk melakukan kepada kerabat Nabi kami  SAW “.

Oleh karena itu, penuntut ilmu tidak boleh bersikap sombong terhadap guru. Diantara bentuk kesombongannya terhadap guru ialah sikaf tidak mahu mengambil manfaat (ilmu) kecuali dari orang-orang besar yang terkenal ; padahal sikaf ini merupakan kebodohan. Karena ilmu merupakan faktor penyebab keselamatan dan kebahagiaan. Siapa yang mencari tempat pelarian dari binatang buas yang berbahaya maka ia tidak akan membeda-bedakan antara diberitahukan oleh orang yang terkenal ataukah orang yang tidak tenar. Ilmu pengetahuan adalah barang milik kaum Muslimin yang hilang, ia harus memungutnya dimana saja ditemukan, dan merasa berhutang budi kepada orang yang membawanya kepada dirinya siapapun orangnya. Oleh sebab itu dikatakan : “Ilmu enggan tehadap pemuda yang congkak. Seperti banjir enggan terhadap tempat yang tinggi”. Ilmu tidak bisa didapat kecuali dengan tawadhu’ dan menggunakan pendengaran (berkonsentrasi). Allah berfirman : “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. “ (Q.S. Qaaf :37).  

Arti “mempunyai akal” ialah menerima ilmu dengan faham, kemudian kemampuan memahami itu tidak akan bisa membantunya sebelum ia “menggunakan pendengarannya sedang ia menyaksikan” dengan hati yang sepenuhnya hadir untuk menerima setiap hal yang disampaikan kepadanya dengan konsentrasi yang baik, tawadhu’, syukur, memberi dan menerima karunia. Hendaklah murid bersikap kepada gurunya seperti tanah gembur yang menerima hujan deras kemudian menyerap semua bagian-bagiannya dan tunduk sepenuhnya untuk menerimanya. Bagaimanapun cara mengajar yang diterapkan  seorang guru maka hendaklah ia mengikutinya dan meninggalkan pendapat pribadinya karena kesalahan pembimbingnya lebih bermanpaat baginya ketimbang kebenaran dirinya sendiri. Karena pengalaman memberitahukan  hal-hal yang detil dan rumit yang kedengarannya aneh tetapi sangat besar manpaatnya. Ali ra. berkata : “Diantara hak seorang guru ialah kamu tidak banyak bertanya kepadanya, tidak merepotkannya dalam memberi jawaban, tidak mendesaknya apabila ia malas, tidak memegangi kainnya apabila ia bangkit, tidak menyebarkan rahasinya, tidak menggunjing seseorang dihadapannya, dan tidak mencari-cari kesalahannya ; jika ia tergelincir maka kamu terima alasannya. Kamu juga harus menghormatinya dan memuliakannya karena Allah selama ia tetap menjaga perintah Allah, dan tidak duduk dihadapannya sekalipun kamu ingin mendahului orang dalam berkhidmat memenuhi keperluannya.”

Keempat :  Orang yang menekuni ilmu pada tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan diantara manusia, baik apa yang ditekuninya itu termasuk ilmu dunia ataupun ilmu akhirat. Karena hal itu akan membingungkan akal fikirannya, dan membuatnya putus asa dari melakukan pengkajian dan tela’ah mendalam, bahkan pertama kali ia harus menguasai satu jalan yang terpuji dan memuaskan kemudian setelah itu baru mendengarkan berbagai madzhab (pendapat).

Kelima :   Seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu, kecuali ia harus mempertimbangkan matang-matang dan memperhatikan tujuan dan maksudnya. Kemudian jika usianya mendukung maka ia harus berusaha mendalaminya, tetapi jika tidak maka ia harus menekuni yang paling penting diantaranya dan mencukupkan diri dengannya. Karena ilmu pengetahuan saling mendukung dan saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Ia juga harus berusaha dengan segera untuk tidak memusuhi ilmu tersebut dikarenakan kebodohannya, sebab manusia memusuhi apa yang tidak diketahui, Allah berfirman : “Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata : “Ini adalah dusta yang lama”. (Q.S. Al-Ahqaf : 11).

Keenam : Tidak menekuni semua bidang ilmu secara sekaligus tetapi menjaga urutan dan dimulai dengan yang paling penting, Karena apabila usia, pada ghalibnya, tidak memadai untuk mendapatkan semua ilmu maka seyogyanya ia mengambil yang terbaik dari segala sesuatu dan mencurahkan segenap kekuatannya pada ilmu yang mudah dipelajari sampai menyempurnakan ilmu yang paling mulia yaitu ilmu akhirat. Secara umum, ilmu yang paling mulia dan puncaknya ialah pengenalan Allah (ma’rifatullah) azza wajalla. Ia adalah lautan yang tidak diketahui kedalamannya, dan puncak derajat manusia dalam hal itu adalah tingkatan para Nabi kemudian para Wali kemudian orang-orang yang dibawah mereka.

Ketujuh : Hendaklah tidak memasuki suatu cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu yang sebelumnya; karena ilmu tersusun secara teratur, sebagiannya merupakan jalan bagi sebagian yang lain. Orang yang mendapat taufiq ialah orang yang menjaga urutan dan pentahapan tersebut. Hendaklah tujuannya dalam setiap ilmu yang dicarinya adalah peningkatan kepada apa yang berada diatasnya. Oleh sebab itu, ia tidak boleh menilai tidak benar suatu ilmu karena ada penyimpangan dikalangan orang-orang yang menekuninya, atau karena kesalahan salah seorang atau beberapa orang dalam ilmu itu, atau karena pelanggaran mereka terhadap konsekwensi amaliah dari ilmu mereka. Sehingga ada sekelompok orang yang tidak mahu melakukan kajian dalam masalah ‘aqliyah danfiqhiyah  dengan alasan seandainya punya dasar niscaya sudah dicapai oleh para ahlinya. Ada juga sekelompok orang yang meyakini kebatilan ilmu kedokteran hanya karena mereka pernah menyaksikan kesalahan yang dilakukan oleh seorang dokter. Adapula sekelompok yang meyakini kebenaran ramalan perbintangan (perdukunan) hanya karena adanya kesesuaian yang pernah dibuktikan oleh seseorang.

Kedelapan : Hendaklah mengetahui faktor penyebab yang dengannya ia bisa mengetahui ilmu yang paling mulia. Apa yang dimaksudkannya adalah dua hal ; pertama kemuliaan hasil; dan kedua kekokohan dan kekuatan dalil. Ilmu yang paling mulia adalah ilmu tentang Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan ilmu tentang jalan yang mengantarkan kepada ilmu-ilmu ini.

Kesembilan : Hendaklah tujuan murid di dunia adalah untuk menghias dan mempercantik batinnya dengan keutamaan, dan di akhirat adalah untuk  mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan diri untuk bisa berdekatan dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orang-orang yang didekatkan (muqarrobin). Hendaklah murid tidak bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan , harta, dan pangkat, atau untuk mengelabui orang-orang bodoh dan membanggakan diri kepada sesama orang yang berilmu. Disamping itu, ia tidak boleh meremehkan semua ilmu, yakni ilmu fatwa, ilmu nahwu dan bahasa yang berkaitan denga al-Qur’an dan as-Sunnah dan ilmu-ilmu lainnya yang merupkan fardhu kifayah. Dan barangsiapa dengan ilmunya bermaksud untuk mencari ridho Allah maka pasti ilmu itu akan bermapaat baginya dan mengangkat derajatnya.

Kesepuluh : Hendaklah mengetahui kaitan ilmu dengan tujuan agar supaya mengutamakan yang tinggi lagi dekat daripada yang jauh, dan yang penting daripada yang lainnya. Arti “yang penting” ialah apa yang menjadi kepentingan anda ; tidak ada yang menjadi kepentingan anda kecuali urusan dunia dan akhirat.

Kemudian dijelaskan mengenai adab-adab seorang murid terhadap Gurunya (Mursyidnya) yang diambil dari  kitab : ’Awaarif Al-Ma’aarif karya Syeikh Syihaabuddin ‘Umar Suhrawardi diantaranya ada lima belas, sebagai berikut:

Pertama : Keyakinan penuh pada Mursyid dalam ajaran, bimbingan, dan penyuciannya atas diri murid-muridnya. Jika ia memandang orang lain lebih sempurna, maka ikatan cinta pun melemah, dan ucapan mursyid tak banyak berpengaruh pada diri sang murid. Sebab, sarana yang diperlukan agar segenap ucapan dan tindakan mursyid bisa berpengaruh adalah cinta. Jika kadar cintanya besar, maka kesiapannya untuk menerima perintah mursyid pun besar pula.

Kedua : Ketetapan hati yang sempurna untuk mendatangi Mursyid. Ia harus mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa tanpa mendatangi mursyid, tak bakal ada pintu terbuka. Jadi, di depan pintu gerbang mursyid, ia harus berniat menyerahkan hidupnya dan mencapai tujuan. Tandanya adalah bahwa ia tidak menolak dibimbing dan diarahkan oleh mursyid.

Ketiga : Mematuhi perintah Mursyid. Dengan segenap jiwa dan raganya sang murid harus mengakui kekuasaan mursyid dan mematuhi semua perintahnya. Sebab, tanpa ini, tidak akan ada yang bisa diraih dan ketulusan tidak bisa diketahui.

Keempat : Tidak melawan. Seorang murid, baik secara lahir maupun batin, tidak boleh melawan kewibawaan mursyidnya. Jika ada sesuatu pada diri mursyid yang tidak bisa dipahaminya, dan kebenarannya belum ia mengerti, maka ia harus selalu mengingat kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidhir AS. Meskipun memiliki kekuasaan kenabian, pengetahuan, dan cintanya yang besar, Nabi Musa AS tidak bersedia mematuhi perintah-perintah Nabi Khidhir AS. Sesudah berbagai misteri berikut hikmahnya diungkapkan, Nabi Musa AS bersedia mematuhinya.

Kelima : Menafikan kehendak dan keinginannya sendiri. Seorang murid tidak boleh memulai segala sesuatu, sebagian atau seluruhnya, tanpa menyesuaikannya dengan keinginan mursyidnya.

Keenam : Selalu menghargai pemikiran sang mursyid. Seorang murid tidak boleh melakukan apapun yang dibenci oleh mursyid, walaupun dianggap persoalan kecil.

Ketujuh : Mengacu pada pengetahuan mursyid dalam menjelaskan makna berbagai macam mimpi. Dalam menjelaskan makna berbagai macam mimpi, entah dalam keadaan tidur maupun terjaga, ia harus mengacu pada pengetahuan mursyid. Sebab, mungkin saja, mimpi itu hanyalah ungkapan dari hasrat buruk yang terpendam sehingga bisa membahayakan dirinya. Ia harus menyampaikannya kepada mursyid agar bisa dimengerti dan dipahami.

Kedelapan : Menghormati ucapan mursyid. Seorang murid haruslah memahami bahwa lidah mursyid adalah mata rantai kehendak Allah. Ia haruslah yakin bahwa mursyid adalah juru bicara Allah dan bukan juru bicara hawa nafsu. Ia harus berpandangan bahwa hati mursyid laksana lautan yang luas dan berisi mutiara pengetahuan, permata ma’rifat, dan selalu ditiup oleh angin rahmat dari Zat Maha Abadi, yang menyisakan sebagian mutiara dan permata itu dibibir pantai lidahnya.  Tidak ada ucapan mursyid yang sia-sia, dan tidak berguna bagi kemajuan muridnya. Di antara ucapan mursyid dan keadan dirinya, ia harus menempuh jalan yang tepat serta bergaul dengannya. Di depan pintu gerbang kerajaan Allah, dengan bekal lidah kesiapan,. ia harus mencari ketulusan. Sesuai dengan kesiapannya ini, akhirnya ia tiba di tujuan. Hanya dengan berbekal kemunafikan dan pengetahuannya sendiri semata, ia tidak akan pernah sampai kepada-Nya. Karena dorongan hawa nafsunya, ia akan semakin jauh dari dirinya sendiri, dan tidak bisa mendengar ucapan dan kata-kata mursyidnya.

Kesembilan : Merendahkan suara. Di hadapan mursyid, seorang murid tidak boleh mengeraskan suaranya. Sebab, jika ia mengeraskan suaranya, maka ini berarti bahwa ia telah bersikap tidak sopan dan menghilangkan martabatnya sendiri. Al-Qur'an mencela suara yang terlalu keras atau terlalu lemah sehingga tidak terdengar.

Kesepuluh : Menahan diri dari tindakan di luar batas. Sang murid menempuh jalan kegembiraan bersama mursyid bukan karena kata-kata atau perbuatan belaka. Dengan kegembiraan, hijab kemuliaan atau kehormatan terkoyak, dan pintu berkah pun tertutup. Ia mesti mengucapkan, “Wahai Junjunganku ! Wahai Pemimpinku !” Semula, para sahabat biasa memanggil Nabi Muhammad secara tidak sopan tanpa sebutan kehormatan dengan mengatakan : “Wahai Muhammad ! Wahai Ahmad !” Kemudian turunlah perintah Allah yang mencela mereka. Selanjutnya, mereka mengucapkan “Ya Rasulullah !” Di hadapan mursyid, seorang murid tidak boleh membentangkan sajadahnya kecuali pada waktu shalat, tidak bergerak dan berteriak selama melakukan dzikir, dan harus menahan diri agar tidak bergerak dan tertawa-tawa.

Kesebelas : Mengetahui waktu yang tepat untuk bicara. Ketika murid ingin berbicara kepada mursyidnya tentang masalah iman atau urusan diniawi yang penting, pertama-tama ia harus memastikan apakah mursyid punya waktu luang. Ia tidak boleh terlalu terburu-buru dan bicara kasar sewaktu mendekati mursyidnya. Sebelum berbicara, ia harus menunjukkan kerendahan hati, tenang dalam berucap dan jangan terlalu banyak bertanya.

Kedua belas : Menjaga batas kehormatannya sendiri. Sewaktu bertanya kepada mursyid, ia harus menjaga kehormatannya dan karena keadaannya sendiri, tidak perlu berusaha mengetahui segenap keadaan mursyid yang mungkin tidak ia ketahui. Ia tidak boleh berbicara suatu masalah yang bukan menjadi bagian dari kedudukan (maqam) atau keadaan mistis (hal)-nya. Ia juga tidak boleh bertanya banyak tentang berbagai persoalan penting dari keadaan yang dialaminya sendiri. Kata-kata yang bermanfaat adalah yang mereka ucapkan hingga dipahami oleh pendengar. Dan pertanyaan yang bermanfaat adalah yang sesuai dengan tingkatan pendengar.

Ketiga belas : Mampu menjaga rahasia-rahasia mursyid. Sang murid tidak diizinkan mengungkapkan dan menceritakan setiap keadaan (entah berupa keajaiban, mimpi, dan sebagainya) yang dirahasiakan oleh mursyid. Sebab, dengan menyembunyikannya, sang mursyid beroleh manfaat dalam keimanan dan kehidupan duiawi yang tidak bisa dicapai oleh ilmunya. Sebaliknya, dengan mengungkapkannya, akan ada bahaya besar yang dapat ditimbulkan.

Keempat belas : Mengungkapkan berbagai rahasianya sendiri kepada mursyid. Kepada mursyidnya, seorang murid tidak boleh menyembunyikan rahasia-rahasianya. Setiap kejaiaban dan anugerah yang diberikan Allah kepadanya harus segera diceritakan kepada mursyidnya untuk memperoleh penjelasan dan penilaian dari mursyid.

Kelima belas : Berbicara kepada mursyid sesuai dengan kadar pemahaman pendengar lainnya. Seorang murid tidak boleh mengemukakan masalah yang tak bisa dipahami atau tidak dimengerti pendengar lainnya. Sebab, tidak diperoleh manfaat dari ucapan seperti itu dan mungkin juga bisa melemahkan kepercayaan pendengar kepada mursyid.

Jika murid mengamalkan adab-adab tersebut diatas, maka tujuan yang dicapainya (yang diperolehnya dari Rahmat Agung Allah dan turunnya berkah Ilahi tak terhingga jumlahnya) menjadi jelas secara tersurat maupun tersirat dalam majelis yang diadakan oleh mursyid

Bab III

Penutup

Kesimpulan

Dalam dunia pendidikan islam khususnya pembelajaran, telah banyak ulama merumuskan konsep kurikulum, metodologi bahkan sampai kaifiyyah (cara) implementasi keilmuan yang menjadi intisari dari proses pembelajaran. Bahkan secara kualitas tampak jelas akan hasilnya kepada objek dalam hal ini murid.  Melihat uraian hal di atas, para ulama salaf menawarkan konsepnya dengan penuh bijak. Kalau kita telita sangat erat sekali hubungan seorang murid kepada gurunya tidak hanya secara lahiriyah saja, namun mencakup bathiniyyah. Hal ini tentu berbeda dengan realita pendidikan yang ada khususnya dalam kenal dimana hanya mengedepankan intelektual dan formalitas dengan menafikan unsure-unsur yang lain. Tentu hal tersebut perlu ditelaah kembali.

Daftar  Pustaka:

1.       Syaikh Zarnuji, Ta’lim Muta’alim.

2.       Syeikh Syihaabuddin ‘Umar Suhrawardi, ’Awaarif Al-Ma’aarif.

3.       Sa’id Hawwa, mensucikan jiwa, sebuah intisari kitab Ihya Ulumuddin

 


Comments

11/19/2013 8:40pm

Cacad


















































Reply



Leave a Reply