BAB I

PENDAHULUAN

Pada dasarnya, dalam perkembangan zaman yang sejalan dengan peningkatan kebutuhan manusia, bertambah pula keilmuan dan pengetahuan sebagai sarana utama untuk mencapai kebutuhan tersebut.

Ilmu falak mungkin saja masih terdengar langka di telinga masyarakat sekarang ini. Apalagi generasi muda yang sudah condong kepada ilmu umum dan mulai meninggalkan ilmu keislaman. Antara ilmu falak dan astronomi terdapat kesamaan pada objek yang diteliti yaitu benda-benda langit. Namun secara aplikasi memiliki ruang lingkup yang berbeda. Berbeda dengan astronomi yang hanya berfokus pada penelitian dan aplikasi keilmuan yang bersifat umum, dengan dasar agama ilmu falak mempunyai keunikan tersendiri yaitu 
kajian keilmuannya yang bermanfaat dalam kehidupan beragama sebut saja dalam hal ibadah.

Khazanah keislaman yang fenomenal dengan para ilmuwan Islam yang terkenal dan handal namun ada kesan kolot dan tertinggal. Begitulah ilmu falak dalam perspektif masyarakat beberapa tahun belakangan ini.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. ASTRONOMI DALAM DIMENSI WAKTU

#    SEJARAH ASTRONOMI SEBELUM ISLAM

Pada dasarnya, orang-orang arab jahiliyah sebelum kedatangan Islam telah memiliki pengetahuan pengetahuan dasar tentang ilmu astronomi. Namun belum pantas untuk dikatakan sebagai ilmu pengetahuan karena belum berbentuk rumusan-rumusan ilmiah dan bahkan banyak yang ditambah berbagai tahayul yang bersifat fantastis. Seperti paradigma masyrakat arab waktu itu bahwa terjadinya gerhana, jatuhnya meteor, dan adanya bintang berekor yang tampak dianggap sebagai hal tidak wajar yang terjadi karena ada dewa yang marah atau adanya raksasa yang menelan bulan dan sebagainya.

Jejak astronomi tertua ditemukan pada tahun 3500-3000 SM dalam peradaban bangsa Sumeria dan Babilonia yang tinggal di Mesopotamia. Bangsa Sumeria menerapkan bentuk-bentuk dasar astronomi dan pembagian lingkaran menjadi 360°. Sudah mengetahui gambaran konstelasi bintang sejak 3500 SM. Menggambar pola-pola rasi bintang pada segel, vas, dan papan permainan. Nama rasi Aquarius yang dikenal saat ini berasal dari bangsa Sumeria.

sekitar tahun 500 SM astronomi sudah dikenal oleh masyarakat India kuno, dengan melahirkan sistem matematika yang menempatkan bumi berputar pada porosnya. dia membuat perkiraan mengenai lingkaran dan diameter bumi. Brahmagupta (598-668) adalah seorang astronom India dengan teks astronominya yang berjudul Brahmasphutasiddhanta pada tahun 628 M. Dia adalah astronom pendahulu yang menggunakan aljabar untuk memecahkan masalah-masalah astronomi.

Masyarakat Cina kuno sudah mengenal astronomi pada tahun 4000 SM. Awalnya, astronomi di Cina digunakan untuk mengatur waktu. Orang Cina menggunakan kalender lunisolar. Perputaran matahari dan bulan yang berbeda, menjadikan para ahli astronomi Cina sering menyiapkan kalender baru dan membuat observasi.

Bangsa Yunani kuno sangat tertarik dengan astronomi. Diawali oleh Thales pada abad ke-6 SM. Menurut dia, bumi itu berbentuk datar. Phytagoras sempat membantah pendapat itu dengan menyatakan bumi itu bulat. Dua abad berselang, Aristoteles melahirkan terobosan penting yang menegaskan menyatakan bahwa bumi itu bulat bundar.

Pada abad ke-3 SM Aristachus melontarkan pendapat bahwa Bumi bukanlah pusat alam semesta. Namun teori itu tidak mendapat tempat masa itu. Era astronomi klasik ditutup Hipparchus pada abad ke-1 SM yang melontarkan teori geosentris. Bumi itu diam dan dikelilingi oleh matahari, bulan, dan planet-planet yang lain. Ptolomeus menyempurnakan sistem geosentris pada abad ke-2 M.[1]

Sebagai bangsa pengembala, orang-orang membutuhkan rumput yang segar untuk memberi makan gembalaan mereka. Dan untuk mengetahui di mana letak tanah yang telah dituruni hujan, mereka mencatat perputaran musim. Hal ini menjadikan orang-orang arab menyimpan perhatian yang besar terhadap ilmu astronomi. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad Ali al-Ma’la di dalam bukunyaAtsarul ‘Ulamail Muslimin Fil Hadlarah Al Auribuah:

“Orang-orang senang menyaksikan keindahan bintang gemintang. Dia menyaksikan geraknya kemudian meneliti pertambahan dan kurangnya bulan hari demi hari. Selanjutnya bulan demi bulan dia menyaksikan miringnya matahari. Maka mereka pun membuat petunjuk-petunjuk dari matahari, bulan, dan bintang, untuk menghitung hari dan bulan, musim dan tahun, tanda-tanda waktu mengembara berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.” [2]

Namun di antara kekolotan dan keunikan paradigma masyarakat saat itu, ada juga di antara mereka yang memahami alam semesta dan jagad raya dengan akal rasionya. Antara lain :[3]

a)      Aristoteles (384-322 SM)

Pencetus paham geosentris, yaitu bumi sebagai pusat peredaran benda-benda langit dengan lintasan masing-masing benda langit yang berbentuk lingkaran. Sedangkan bumi selalu dalam keadaaan tenang, tidak bergerak dan tidak berputar.

Pada zaman ini peristiwa gerhana tidak lagi dianggap mengandung hal mistik, namun hanyalah sebuah fenomena alam yang wajar dan sering terjadi.

b)      Claudius Ptolemeus (140 M)

Searah dengan pola fikir Aristoteles tentang kosmos, Ptolemeus juga beranggapan bahwa bumi adalah pusat peredaran benda-benda langit. Dengan konsep orbit benda-benda planet berupa lingkaran di dalam bola langit. Dan bintang-bintang sejati yang berada pada dinding bola langit.

Faham Geosentris berlaku sampai abad VI masehi dengan buku besar tentang ilmu bintang-bintang yang berjudul ”Syntasis” karangan Ptolemeus.

#    ASTRONOMI DALAM PERADABAN ISLAM

Ilmu falak (astronomi Islam) pertama kali ditemukan oleh Nabi Idris, sebagaimana disebutkan dalam mukadimah kitab-kitab falak. Namun embrio ilmu astronomi mulai nampak sekitar abad ke-28 sebelum masehi. Digunakan untuk menentukan waktu penyembahan berhala seperti di Mesir, Babilonia, dan Mesopotamia.[4]

Ilmu astronomi Islam dapat dikatakan muncul dengan gemilang pada masa pemerintahan Khalifah Abbasiah karena adanya hubungan orang-orang Arab dengan berbagai macam kebudayaan dunia dan mereka jugs menyalin dari kitab-kitab klasik karangan orang-orang India dan orang-orang Yunani.

Para ilmuan muslim mulai melakukan penelitian astronomis berdasarkan Al-Quran surah Yasin ayat 38-40 dan surah Yunus ayat 5.

1.      Yasin ayat 38-40

Artinya :

38. Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

39. Dan Telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (Setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua[5].

40. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

2.      Yunus ayat 5

Artinya :

5. Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[6]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui.

Seorang pengembara India menyerahkan sebuah data buku astronomi yang berjudul ”Sindhind” atau ”Sidhanta” kepada kerajaan Islam di Baghdad pada tahun 773 M. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Muhammad ibn Ibrahim al-Fazari (w.796 M) atas perintah Khalifah Abu Ja’far al-Manshur (719-775). Dan kemudian al-Fazari dikenal sebagai ahli astronomi pertama di dunia Islam.

Abu Ja’far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (780-847 M) muncul pada abad ke-8 setelah al-Fazari sebagai ketua observatorium al-Makmun. Dengan telaahnya terhadap hasil karya al-Fazari, al-Khawarizmi adalah orang pertama yang berhasil mengolah sistem penomoran India menjadi dasar operasional ilmu hitung dan penyusun tabel trigonometri (daftar logaritma) seperti yang ada sekarang ini. Terciptanya sistem pecahan desimal sebagai kunci terpenting dalam pengembangan ilmu pasti juga berkat penemuan angka 0 (nol) India oleh al-Khawarizmi.  Selain itu al-Khawarizmi menemukan kemiringan zodiak terhadap ekuator sebesar 23,5° dan memperbaiki data astronomis pada buku terjemahan ”Sindhind

al-Mukhtashar fi Hisabil Jabr wal Muqabalah” dan ”Suratul Ardl” adalah dua buku penting karya al-Khawarizmi yang banyak diikuti dalam bidang ilmu astrnomi Islam.

Abu Ma’syar (w.885 M) di Eropa dikenal dengan nama Albumasyar adalah penemu adanya pasang naik dan pasang surut sebagai akibat pergerakan bulan terhadap bumi. Dua bukunya yang terkenal adalah ”al-Madkhalul Kabir” dan ”Ahkamus Sinni wal Mawalid”.  Abu Bakar al-Hasan bin al-Hasib (w.893 M) dikenal dengan sebutan Albubacer dengan bukunya ”al-Mawalid”. Maslamah Abu al-Qasim Al-Majriti (905-1007 M) dengan bukunya ”Ta’dilul Kawakib”. Ibrahim ibn Az-Zarqali (1029-1089 M) di Eropa dikenal dengan nama Arzalchel. Seorang ahli astronomi Islam dan ahli teropong bintang. Memiliki daftar astronomis bintang-bintang yang bernama ”as-Shafihah”.

Nasiruddin Muhammad at-Thusi (1201-1274 M) adalah saeorang ahli astronomi Islam yang telah membangun observatorium di Maragha atas perintah Hulagu. Dia juga membuat tabel-tabel data astronomi benda-benda langit bernama ”Jadwalul Kaniyan”.

Ahli astronomi Islam lainnya adalah Ibnu Jabr al-Battani (858-929 M) yang di dunia barat dikenal dengan nama Albatenius. Dia melakukan penelitian di observatorium ar-Raqqah di hulu sungai di Baghdad, dan melakukan perhitungan-perhitungan jalan bintang, garis edar dan gerhana. Dia membuktikan kemungkinan terjadinya gerhana matahari cincin, menetapkan garis kemiringan perjalanan matahari, pajangnya tahun sideris dan tahun tropis, musim-musim serta garis lintasan matahari semu dan sebenarnya, adanya bulan mati dan fungsi sinus. Mempopulerkan pengertian-pengertian tentang perbandingan trigonometri, menerjemahkan dan memperbaiki teori Ptolemeus dalam buku ”Syntasis” dengan judul barunya ”Tabril al-Maghesti” dan bukunya sendiri yang berjudul ”Tamhidul Musthafa li Ma’nal Mamar”. Salah satu karyanya yang paling populer adalah ”al-Zij al-Sabi”. Kitab itu sangat bernilai dan dijadikan rujukan para ahli astronomi Barat selama beberapa abad.[7]

Ali bin Yunus (w.1009 M) mempunyai karya yang berjudul ”Zaijul Kabir al-Hakim” berisi tentang data astronomis matahari, bulan dan komet serta perubahan titik equanox. Kemudian Abdur Rahman al-Biruni (w.1048 M) menemukan perputaran bumi pada sumbunya dan membuat daftar data lintang dan bujur tempat di permukaan bumi.

Ada juga ahli astronomi Islam asal Iskandaria yang berhasil dengan observatoriumnya. Dia berhasil menyusun tabel data astronomi yang kemudian banyak digunakan dan dikembangkan. Zaman kegemilangan astronomi Islam bermula di bawah pentadbiran Khalifah al-Rashid dan anaknya al-Makmun. Dalam masa pentadbirannya di Baghdad, antara tahun 813 dan 833, Khalifah al-Makmun telah mendirikan satu perpustakaan terbesar sejak zaman Alexandria yang dipanggil “The House of Wisdom”.[8] Dalam perkembangannya, ilmu astronomi adalah ilmu yang cukup maju, hanya saja masih mengikuti pandangan geosentrisnya Ptolemeus.

Nama lengkapnya adalah Abu’l-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Kathir al-Farghani atau yang dikenal dengan nama al-Farghani. Seorang pakar astronomi berbangsa Farsi pada zaman Khalifah al-Makmun yang telah menulis sebuah buku unsur-unsur astronomi berdasarkan konsep astronomi Ptolemeus yaitu “Kitab fi al-Harakat al-Samawiya wa Jawami Ilm al-Nujum“. Memperkenalkan beberapa pandangan baru termasuk precession yang melibatkan kedudukan nyata, bukan saja planet-planet, malahan bintang-bintang juga. Hal ini memainkan peranan penting di Eropa Barat dan telah diterjemahkan kedalam bahasa Latin dalam kurun ke-12.

Dalam tahun 994, pakar astronomi Al-Khujandi, yang berasal dari Tadjikistan telah mencipta satu sextant dinding yang amat besar di Balai Cerap Ray yang merupakan satu alat pertama yang membolehkan sudut diukur dengan lebih persis. Alat ini digunakan terutama untuk mengukur kecondongan dataran ekliptik dengan lebih persis.

Al-Biruni (973-1050 M), adalah seorang cendekiawan yang berasal dari kawasan lautan Aral. Turut memberi sumbangan dalam bidang astrologi pada zaman Renaissance. Dalam astronomi, dia tidak hanya terkenal karena usaha cerapan bulan dan gerhana, tetapi juga karena pendekatan secara modern dalam kaidah eksperimennya terutama dalam analisis perkiraan ralatnya dan juga perkiraan Al-Khujandi. Al-Biruni juga telah memperkirakan ukuran bumi dan membetulkan arah kota Makkah secara saintifik dari berbagai arah di dunia. Dari 150 hasil buah pikirnya, 35 diantaranya didedikasikan untuk bidang astronomi.

Omar Khayyam adalah seorang berbangsa Farsi yang terkenal dalam bidang sajak dalam kurun ke-11, dia juga berminat dalam beberapa bidang lain, terutama bidang algebra dan astronomi. Menciptakan jadwal astronomi baru yang istimewa karena ukuran tahun solar pada tahap kepersisan yang tertinggi buat masa itu.

Jabir Ibn Aflah (1145 M) atau Geber adalah seorang ahli matematik Islam berbangsa Spanyol yang ikut memberi kontribusi dalam pengembangan ilmu astronomi. dia adalah ilmuwan pertama yang menciptakan sfera cakrawala yang mudah dipindahkan untuk mengukur dan menerangkan mengenai pergerakan objek langit. Salah satu karyanya yang populer adalah ”Kitab al-Hay’ah”.

Zaman kegemilangan astronomi di tanah Islam ini berakhir dalam kurun ke-12. Hasil usaha zaman gemilang ini, sedikit demi sedikit telah diterjemahkan kedalam bahasa Latin, terutamanya di Toledo Sepanyol, lalu tersebar di seluruh benua Eropah. Melalui terjemahan tersebutlah tokoh-tokoh intelektual Eropah, dipenghujung zaman pertengahan, mengkaji semula teori Ptolemeus dan mempelajari perkembangan astronomi hasil sumbangan dunia muslim.

Sebenarnya observatorium pertama di dunia dibangun oleh astronom Yunani bernama Hipparchus (150 SM). Namun, menurut para astronomi Muslim abad pertengahan, konsep observatorium yang dilahirkan Hipparcus itu jauh dari memadai. Sebagai ajang pembuktian, para sarjana Muslim pun membangun observatorium yang lebih moderen pada zamannya.

Sejumlah astronom Muslim yang dipimpin Nasir al-Din al-Tusi berhasil membangun observatorium astronomi di Maragha pada 1259 M. Observatorium itu dilengkapi perpustakaan dengan koleksi buku mencapai 400 ribu judul. Observatorium Maragha juga telah melahirkan sejumlah astronom terkemuka seperti, QuIb al-Din al-Shirazy, Mu’ayyid al-Din al-Urdy, Muiyi al-Din al-Maghriby, dan banyak lagi.

Kevin Krisciunas adalah ahli astronomi Barat yang dalam tulisannya berjudul ”The Legacy of Ulugh Beik” mengungkapkan, observatorium termegah yang dibangun sarjana Muslim adalah Ulugh Beik. Observatorium itu dibangun seorang penguasa keturunan Mongol yang bertahta di Samarkand bernama Muhammad Taragai Ulugh Beik (1393-1449).

Ketertarikan dalam astronomi bemula  ketika dia mengunjungi Observatorium Maragha yang dibangun ahli astronomi Muslim terkemuka Nasir al-Din al-Tusi. Walaupun geliat pengkajian astronomi di Samarkand mulai berlangsung pada tahun 1201. Namun, aktivitas astronomi yang sesungguhnya di wilayah kekuasaan Ulugh Beik mulai terjadi pada 1408 M.

Ghirah astronomi di Samarkand mengalami puncaknya ketika Ulugh Beik mulai membangun observatorim pada 1420. Yang menurut Kriscunas, berdasarkan laporan yang ditulis ahli astronomi pada saat iru, Observatorium ini beroperasi selama 50 tahun. Sayangnya, setelah Ulugh Beik meninggal, obeservatorium itu pun mengalami kehancuran. Sejumlah astronom telah lahir dari lembaga itu yakni, Giyath al-Din Jamshid al-Kushy, Qadizada al-Rumy dan `Ali ibn Muhammad al-Qashji. Observatorium milik Islam yang terakhir dibangun di Istanbul tahun 1577, di zaman kekuasaan Sultan Murad III (1574-1595) didirikan Taqi al-Din Muhammad ibn Ma’ruf al-Rashyd al-Dimashqiy.

#    ASTRONOMI DALAM PERADABAN EROPA

Bangsa Eropa masih berada dalam ketertinggalan ketika negara Islam mencapai masa kejayaannya. Hanya saja kejayaan Islam tidak berlangsung terlalu lama. Bangsa Eropa mulai tertarik dengan pada keilmuan yang dipelajari orang Islam dengan penemuan-penemuan yang luar biasa, justru pendapat-pendapat ilmuwan muslim mulai ditentang oleh aliran musli kolot.

Adanya penyerangan dari bangsa Eropa ke negara-negara Islam mengakibatkan banyaknya perpustakaan yang penuh dengan buku-buku ilmu pengetahuan menjadi puing-puing berserakan dan isinya terbakar. Bangsa Eropa mulai mempelajari semua pengetahuan peninggalan bangsa Arab (muslim), meniru cara-cara hidupnya, mendirikan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, serta perpustakaan-perpustakaan dan berbagai sarana pendidikan lainnya.

Penerjemahan buku-buku astronomi Islam ke dalam bahasa Eropa misalnya buku ”al-Mukhtashar fi Hisabil Jabr wal Muqabalah” karya al-Khawarizmi ke dalam bahasa Latin oleh Gerard dari Cremona dan diberi judul ”The Mathematics of Integration and Equations” yang menjadi pegangan utama di perguruan-perguruan tinggi Eropa hingga abad ke-16. Begitu juga dengan buku ”Suratul Ardl” karya al-Khawarizmi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Aderald dari Bath.

Kemudian dua buku karya Abu Ma’syar ”al-Madkhalul Kabir” dan ”Ahkamus Sinni wal Mawalid” diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh John dari Siville dan Gerard dari Cremona.

Penerjemahan buku ”Tabril al-Maghesti” karya Al-Battani ke dalam bahasa Latin oleh Plato dari Tripoli (w.1150 M) yang kemudian dikutip oleh Nicolas Copernicus dalam karangannya ”De Revolutionibus Orbium Coelestium”. Buku ”Tabril al-Maghesti” juga diiterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Alphonso X. Selain itu tabel bintang-bintang karya az-Zarqali diterjemahkan oleh Ramond dari Marsceilles.

Ada beberapa ilmuwan Eropa yang terkenal dalam bidang astronomi, antara lain:

a.       Nicolas Copernicus (1473-1543 M)

Seorang ahli astronomi amatir asal Polandia yang menentang pandangan geosentris Ptolemeus. Dalam bukunya ”De Revolutionibus Orbium Coelestium” Copernicus berpendapat bahwa matahari merupakan pusat dari suatu sistem peredaran benda-benda langit yang dikenal dengan teori Heliosentris.

b.      Galileo Galilei

Menyusun teori kinematika tentang benda-benda langit yang sejalan dengan pandangan Copernicus. Dia berhasil membuat teleskop yang dapat melihat relief permukaan bulan dengan jelas, noda-noda matahari, planet Saturnus dengan cincin yang indah, planet Yupiter dengan 4 buah setelitnya, dan lain-lain.

c.       Johannes Kepler

Seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman yang selalu mengadakan penelitian terhadap benda-benda langit. Memperluas dan menyempurnakan ajaran Copernicus dengan landasan matematika yang kuat. Berhasil menjadikan hukum universal tentang kinematika planet yang menjadi landasan dalam ilmu astronomi, yaitu :

Ä     Lintasan planet menyerupai ellips dengan matahari pada salah satu titik apinya.

Ä     Garis hubung planet-matahari akan menyapu daerah yang sama luasnya dalam selang waktu yang sama panjangnya.

Ä     Pangkat dua kala edar planet sebanding dengan  pangkat tiga jarak planet ke matahari[9].

B. ASTRONOMI DAN URGENSINYA DALAM KEISLAMAN

Runtuhnya kebudayaan Yunani dan Romawi pada abad pertengahan berakibat pada  berpindahnya kiblat kemajuan ilmu astronomi ke bangsa Arab. Astronomi berkembang begitu pesat pada masa keemasan Islam (8-15 M). Karya-karya astronomi Islam kebanyakan ditulis dalam bahasa Arab dan dikembangkan para ilmuwan di Timur Tengah, Afrika Utara, Spanyol dan Asia Tengah.

Penamaan sejumlah bintang yang menggunakan bahasa Arab, seperti Aldebaran dan Altair, Alnitak, Alnilam, Mintaka (tiga bintang terang di sabuk Orion), Aldebaran, Algol, Altair, Betelgeus, dan sebagaianya adalah salah satu bukti dan pengaruh astronomi Islam yang cukup signifikan.

Astronomi dalam Islam adalah sebuah ilmu yang sangat penting dan juga menarik, menyangkut tentang ketentuan pelaksanaan ibadah yang menggunakan dasar perhitungan astronomis baik itu ibadah yang wajib ataupun yang sunnah.[10] Yang pertama sekali adalah shalat lima waktu dalam menentukan waktu-waktunya bisa menggunakan perhitungan astronomis. Kemudian permasalahan arah kiblat, penentuan awal bulan Qamariah dan perhitungan gerhana yang kesemuanya mempunyai keterkaitan dengan pelaksanaan ibadah amaliyah.

Disebutkan berbagai fenomena astronomis dan dikaitkan dengan ibadah seperti yang termaktub di dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 189:

Artinya :

189.  Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji…

Ayat di atas hanyalah satu dari beberapa ayat secara eksplisit menyatakan bahwa terdapat ketentuan pelaksanaan ibadah pada waktu-waktu tertentu. Masih banyak lagi ayat-ayat yang menyebutkan hubungan antara fenomena astronomis dengan ibadah dalam Islam. Oleh karena itu, perkembangan ilmu astronomi mempunyai peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan ibadah itu sendiri.

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Ilmu astronomi Islam yang lebih dikenal dengan ilmu falak adalah salah satu keilmuan yang sangat penting bagi ummat Islam sendiri karena di dalamnya terdapat ketentuan yang bisa menuntun kita kepada pengetahuan. Seperti halnya sebuah koin yang sisinya berbeda satu sama lain, namun merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Begitu juga keterkaitan antara ilmu astronomi dengan keislaman.

Dari awal mula ditemukannya ilmu astronomi itu sendiri, perkembangan yang terjadi tidak lain adalah untuk mencari kebenaran yang urgensinya sangat berpengaruh terhadap proses kemajuan dan keakuratan data yang diperoleh.

Sejalan dengan perkembangan zaman, ilmu astronomi Islam juga mulai dikembangkan searah dengan keilmuan yang lain. Dibuktikan dengan munculnya ahli-ahli astronomi Islam yang sangat banyak dan sempat berada pada puncak kejayaan di masa pemerintahan Khalifah al-Makmun.

Intinya, ilmu astronomi Islam atau ilmu falak merupakan kajian alam yang akan terus berkembang. Tidak hanya dalam penentuan hal-hal yang berkaitan dengan ibadah, namun dalam ruang lingkup yang lebih luas dan dinamis.

Daftar Pustaka:

Baharrudin Zainal. (2002). Pengenalan Ilmu Falak. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa & Pustaka.

Baiquni, A, Islam Dan Ilmu Pengetahuan Modern, penerbit Pustaka, Jakarta, cet. I, 1983.

Arsyad M. Natsir, Ilmuan Muslim Sepanjang Sejarah, Mizan, Bandung, cet. I, 1989.

Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Quran, Mizan, Bandung, cet. II, 1992.

Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat, Surabaya: Risalah Gusti,1996.

http://www.paramadina.com

Fotenote:

1.    Baharrudin Zainal. (2002). Pengenalan Ilmu Falak. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa & Pustaka, h. 21.

2.    Baiquni, A, Islam Dan Ilmu Pengetahuan Modern, penerbit Pustaka, Jakarta, cet. I, 1983, h. 74.

3.    Ibid, h 86

4.    Baharrudin Zainal. (2002), op.cit, h. 34.

5.    http://www.paramadina.com/astronomi

6.    Arsyad M. Natsir, Ilmuan Muslim Sepanjang Sejarah, Mizan, Bandung, cet. I, 1989, h. 24.

7.    Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Quran, Mizan, Bandung, cet. II, 1992, h 34.

8.    Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat, Surabaya: Risalah Gusti,1996, h. 94

9.    Ibid, h. 122

 


Comments

02/12/2014 12:14am

ass terimakasih informasi ilmu ini semoga bermanfaat. wass

Reply



Leave a Reply